Malang: Warna-Warni Jodipan Saat Coffee Break

10:04:00 AM





“Nggak ada Trip Malang nih?”
 
Sekian lama merantau (padahal baru juga satu setengah tahun), saya sampai kadang lupa sama kampung halaman. Berterimakasihlah kepada Sophia Mega yang mencetuskan pertanyaan tersebut. Maka suatu hari, bertemulah kami di sebuah kedai kopi bernama Legipait untuk nonton Pagi Tadi, sekalian merencanakan Trip keliling-keliling kami yang disebut mega dalam videonya sebagaaai Coffee Break!


Destinasi pertama kami adalah Kampung Warna Jodipan!


Jadi, Kampung Warna ini adalah sebuah project dari mahasiswi UMM yang otomatis kakak tingkatnya Mega juga, yaitu Guyspro. Kata Mega sih, ini sebenarnya adalah tugas praktikum. Dulunya, kampung di kelurahan Jodipan ini memang termasuk kawasan yang terkenal kumuh dan banyak premannya. Tapi, berkat kreatifitas dan kontribusi dari Guyspro, kampung di kelurahan Jodipan ini jadi suuuper cantik!

pic credit: Sophiamega
 Waktu pertama kali dibuka, Mega pernah datang ke sini dan masuknya gratis. Sekarang karena sudah resmi launching, biaya masuknya 2000. Tapi dapat stiker cantik kayak di atas, bisa foto hits semau kamu, jalan-jalan dengan gembira, dan cuci mata sama gambar-gambar unik yang digambar di tembok-tembok rumah. Makasih banyak buat Guyspro yang sudah menambahn daftar komponen hidup berbahagia dan berkecukupan saya dengan bikin Jodipan jadi caaaaantik sekali!

Karena perut kami sudah keroncongan, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke destinasi kedua, yaitu rumah makan tempo doeloe yang bernama Hok Lay. Tapi di tengah jalan, waktu lewat depannya kantor DPRD, kami melihat Bus Malang City Tour sedang parkir menunggu penumpang.
Seketika lupa sama perut, kami parkir motor di belakang Balai Kota, dan naik ke lantai dua bus. 



Malang City Tour atau biasa disingkat Macito, beroperasi setiap hari dari jam 9 pagi hingga 12 siang. Karcisnya? Gratis tis! Rutenya juga asyik. Start dari depan Gedung DPRD, Macito akan melanjutkan rute ke alun-alun, Jalan Kawi, Jalan IJen, Simpang Balapan, dan kembali ke depan Gedung DPRD. Seperti city tour bus biasanya, Macito juga dilengkapi sama guide tour yang sangat aktif mengingatkan kami yang ada di atas untuk merunduk setiap ada pohon yang dahannya rendah.  
Thanks, Mbak! Rasanya kaya main Temple Run.

Habis keliling, kami baru ingat kalau lagi lapar.

Buat yang mau mencari tempat makan ini, harap agak mlipir ya, jalannya. Soalnya emang kalau agak kenceng suka kelewatan. 

pic credit: Sophiamega
Hok Lay sudah buka sejak tahun 1946. Tujuan kami ke sini, selain makan, juga mau nyobain minuman hitsnya yang bernama Fosco. Kami kira Fosco ini bersoda, secara disajikannya di botol coca cola. Tapi ternyata nggak bersoda dan Fosco ini berupa semacam susu coklat yang rasanya tiada banding, lah. Enak banget! The best partnya, Fosco ini disajikan dingin. Katanya, dulu orang Belanda sukanya menjajakan minuman ini pakai sepeda. 

pic credit: Sophiamega
 Setelah itu, kami gas ke Golden Heritage untuk melaksanakan project #12Hari18Kedai-nya Mega.

Pic credit: Sophiamega
Intinya, Golden Heritage ini adalah coffee shop yang saaaangat manis tempatnya. Cantik banget dan sangat bisa dibuat hunting foto lah pokoknya. Untuk cerita lengkap bagaimana Mega mengopi bersama teman-teman mengopinya (atau hanya mengopi sendiri saja), cek sophiamega.com ya!
 
Gas dari Golden Heritage, kami berencana untuk ke Ronde Titoni. Tapi hari itu masih sore dan ternyata Ronde Titoni buka dari jam setengah 7 malam. Bagi yang mau ke sana, harap mlipir juga ya nyarinya karena kalo kenceng-kenceng pasti kelewat. Akhirnya kami gas dulu ke Museum Kopi. 

 
pic credit: Sophiamega
Di Museum Kopi, saya untuk pertama kali nyobain Arabika Preanger Ciwidey (koreksi kalau saya salah nyebut namanya ya) dan sangat segar! Pantas saja Mega suka. Buat testi-testi rasa dan cerita ngopi yang lebih lengkap, cari Mega saja. Saya mah, peminum kopi super amatiran. 
pic credit: Sophiamega
And finally, kami menutup trip kali ini dengan hujan di malam hari yang syahdu dan Ronde Titoni. Termasuk ke dalam list makanan tempo doeloe kami, Ronde Titoni sudah buka sejak tahun 1948. Menunya ada ronde kering, basah, campur, ada angsle juga dan kacang kuah. Tapi yang bikin tambah nikmat, rondenya bisa dimakan dengan ditemani cakwe dan roti goreng yang ukurannya super duper jumbo. Dua kali ukuran normal lah. Jahenya juga strong banget. Cocok buat kami yang waktu itu udah hampir menggigil karena kehujanan malam-malam di Malang. 

pic credit: Sophiamega
Kenyang, ngantuk, kedinginan, dan ingin mandi air hangat, trip seharian kami officially berakhir. Kalau di total, 13 jam saya bersama Mega. Selain menghasilkan tulisan ini, rasan-rasan kami selama 13 jam juga menghasilkan sebuah Vlog yang nyempil di antara Vlog Kopi sama Bukunya Mega. Di situ kami ga cuma ngomongin soal trip, tapi juga sedikit rasan-rasan tentang 2016 dan 2017. Minat check out gak? Minat dong! 

 

Happy Holiday!


Ira

You Might Also Like

0 comments

Contact

Nama

Email *

Pesan *

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe