Semarang: Jadi Apa Saja yang Kamu Mau di Old City 3D Trick Art Museum and Many More!

5:52:00 PM


Karena harus mempersiapkan lumayan banyak hal untuk Gerakan Undip Mengajar (full story bisa dibaca di sini ya!), saya jadi balik super awal ke Semarang. Sebelum kesibukan dimulai, saya dan seorang teman yang juga pengajar di GUM, Mbak Bilqis, memutuskan untuk menghabiskan saat-saat senggang terakhir kami untuk jalan-jalan keliling semarang.

Naik BRT Trans Semarang.

BRT Trans Semarang adalah akronim dari Bus Rapid Transit Trans Semarang. Mirip-mirip sama Transjakarta dan Transjogja cuma bayar BRT ini nggak di loket tapi langsung di dalam bus sama mbak-mbak pramugari. Harga karcisnya 3500 rupiah aja untuk umum dan 1000 rupiah untuk pelajar.

Rencana saya sama Mbak Bilqis, sih, kami mau menghilang tak tentu arah aja ngikut ke mana BRT akan membawa. Namun pada akhirnya, setelah berunding di dalam bus, kami memutuskan untuk turun di Kota Lama.

Waktu pertama kali datang ke Semarang, salah satu tempat yang paling menarik perhatian saya adalah Kota Lama. Bagi saya, Kota Lama Semarang cantik sekali. Jalannya nggak beraspal tapi pakai paving (seperti kota lama pada umumnya) dan bentuk-bentuk bangunannya masih memakai model lama. Ada juga bangunan yang sudah dialihfungsikan untuk jadi café atau tempat makan.

3D Trick Art Museum

Sebenarnya kami sama sekali nggak kepikiran untuk ke sini. Saya bahkan nggak tahu kalau semarang punya museum 3D trick art. Ceritanya, kami sedang jalan-jalan saja siapa tahu nemu tempat asyik untuk dikunjungi. Ternyata beneran ketemu tempat asyik!

Untuk main-main di museum ini, kami harus merogoh kocek cukup dalam yaitu 40000 rupiah. Awalnya kami ragu, tapi, what the hell lah! Hehehe. Daripada nggak bisa tidur.


Here’s us coming out of picture frame! Hehehe.

Kita bener-bener bisa jadi apa saja deh di Old City 3D Trick Art Museum ini. Jangan khawatir akan tersesat (karena booth untuk fotonya bener-bener super banyak!) ya, karena rutenya sudah disiapkan. Oh ya, juga akan ada mbak-mbak dan mas-mas super telaten dari museum yang bakal membantu kita untuk ambil foto biar hasilnya jadi pas dan 3D Trick Art beneran.

Selain jadi lukisan yang keluar dari bingkainya, saya juga bisa selfie sama Walikota Semarang, loh. Heheh.


Saya juga konser bareng sama Chris Martin (walaupun sambil pake masker yang nggak banget).


Bakat terpendam Mbak Bilqis untuk jadi ballerina juga tersalurkan di sini. Hebat, kan?


Bosen menghadapi tugas-tugas kuliah yang super menumpuk dan nggak selesai-selesai lalu milih jadi anak ayam aja? Bisaa!


Metro-Goldwyn -Mayer mungkin juga bisa pake jasa saya untuk meraung menggantikan singa mereka.


Dan maaaasih banyak lagi. Kita bisa meloncat-loncati bebatuan di tengah luapan lava untuk menuju gunung merapi, berjalan agak-agak cari mati di pinggiran tebing, jadi saingan tandingnya sumo, bahkan jadi panda photographer kayak saya ini!


Mungkin pengalaman jadi Panda Photographer bakal saya masukin ke resume. Atau bisa juga berfoto sok-sokan gadis desa yang rajin bangun pagi dan menyambut hari dengan ceria seperti ini.


Kalau sudah puas foto-foto dan jadi berbagai macam hal di dalam, mungkin kita akan kelaparan dan kehausan (karena kamipun begitu). Jangan khawatir, di bagian depan museum ini ada Tong Ji Tea House yang bisa dibuat nongkrong dan ngobrol-ngobrol sambil memilah-milah hasil foto di dalam.


Tuh, saya bonusin mendoan.

Semarang Contemporary Art Gallery


Tempat ini adalah tujuan kami sebenarnya turun di Kota Lama. Berbulan-bulan lalu, ceritanya Mbak Bilqis pernah mengunjungi museum ini sekali dan karena karya-karyanya berganti-ganti setiap beberapa waktu sekali, nggak masalah untuk berkali-kali datang ke sini.

Saya biasanya bukanlah seorang penikmat seni yang bukan musik dan pertunjukan. Jadi saya benar-benar nggak menyangka kalau saya bakalan merasa sangat-sangat girang di sana. Menikmati musik dan pertunjukan memang menyenangkan, tapi ada suatu kesenangan yang beda dari mengunjungi museum seni seperti Contemporary Art Gallery ini.


Saya lupa siapa pelukis dan apa judul lukisan ini, tapi lukisan ini adalah yang paling awal menarik perhatian saya. Itu adalah batman, dengan gambar anak-anak dengan kondisi yang bermacam-macam di sebagian besar batmannya. Kondisi anak-anak yang seperti itu mungkin bisa kita temukan di slum area atau negara-negara yang berkekurangan dan negara-negara konflik.


Saya juga lupa pelukis dan judul dua lukisan itu hehe.

Dan lukisan yang saya tontonin paling lama nggak selesai-selesai adalah ini.


Circle Cases, pelukisnya adalah Aan Arif. Hehe kalau yang ini, saya ingat. Pria di tengah yang posenya seperti Vitruvian Man itu sangat-sangat mirip dengan Jokowi, bahkan dengan mata yang tertutup seperti itu. Di sekitarnya, ada orang-orang yang digambarkan sebagai tokoh-tokoh terkenal Indonesia ada yang mirip Bu Megawati, Pak Habibie, Pak SBY, dan masih banyak lagi.

Dari Old City 3D Trick Art Museum, lalu beralih ke Semarang Contemporary Art Gallery, rasanya kami masih ingin jalan-jalan di Kota Lama. Jalan sedikit, kita akan menemukan Gereja Blenduk tapi karena kami nggak bisa ngapa-ngapain di sana apalagi masuk, akhirnya kami berjalan terus ke tempat yang nggak kalah asyik.

Kampoeng Seni PADANGRANI


PADANGRANI adalah singkatan dari Paguyuban Pedagang Barang Seni. Di sini, kita bisa menemukan berbagai macam barang-barang antik yang cantik-cantik dan unik-unik. Ada piringan hitam, alat makan yang mungkin sering kita pakai waktu menginap di rumah kakek-nenek, dan maasih banyak lagi.


Dari kamera yang super duper lucu ini, sampai setrika yang saya nggak ngebayangin gimana makenya ini,


Selain itu, ada juga uang-uang lama Indonesia sebelum krisis ekonomi menyerang yang sudah jaarang banget bisa kita temukan kalau nggak bener-bener nyari di tempat seperti ini.


Selesai berjalan-jalan di Kampoeng Seni PADANGRANI, kami memutuskan untuk shalat karena memang sudah lewat dhuhur. Karena sedang jalan-jalan, kami sekalian saja pergi ke tempat wisata religi juga.

Masjid Agung Jawa Tengah


Perjalanan ke MAJT ini nggak bisa hanya naik BRT saja. Kami juga butuh naik angkot dua kali ternyata dan kami sangat-sangat buta arah di Semarang bagian sini. Jadi, hanya dengan mengandalkan keberanian untuk bertanya-tanya sama warga sekitar (jangan ragu untuk bertanya, ya! InsyaAllah dijawab dengan ceria dan akurat, kok, asal bertanyanya ceria juga hehehe), saya dan Mbak Bilqis akhirnya sampai juga di Masjid Agung Jawa Tengah.

Payung-payung super besar di pelataran masjid yang mirip-mirip seperti yang ada di Masjid Nabawi di Madinah itu adalah salah satu alasan utama kenapa saya kepingin banget mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah ini. Pelataran super besar itu juga sangat menggiurkan untuk dibuat bersenang-senang dan lari-larian, tapi saya jadi malah lari-lari sungguhan karena lantainya panas banget! Apalagi waktu itu siang hari dan payungnya sedang ditutup seperti itu. Kalau mau jalan santai di situ, saya rasa telapak kaki kita harus kebal.

Selesai shalat dhuhur, istirahat, dan dilanjut shalat ashar (kalau lapar di sekitaran masjid banyak sekali warung-warung yang jual makanan), kami masuk ke gedung museum merangkap menara MAJT.

Untuk naik ke puncak menara dan menikmati pemandangan Kota Semarang dari ketinggian dengan teropong, kita harus mengantri di depan lift dulu, secara kapasitas lift juga terbatas jadi harus bergantian.


Tapi menunggu sebentar untuk naik ke puncak sangat sebanding, kok, dengan rasa ketika kita sudah sampai di puncak. Anginnya kencang dan hawanya sejuk sekali dan sama sekali nggak terasa hawa Semarang yang biasanya panas. Kalau mau melihat secara close up, kita bisa memakai teropong yang biar bisa berfungsi harus dimasukin uang koin 1000 rupiah dulu. Nggak ada koin? No worries! Ada mbak-mbak yang duduk di meja-meja yang menyediakan jasa penukaran uang koin seribuan kok.

Perjalanan kami ditutup di Puncak Menara MAJT. Semarang hits juga, kok, jika kita mau berkeliling dan mengeksplor. Ini saja kami baru menyentuh pusat kotanya. Masih baaanyak lagi tempat-tempat asyik yang bisa kita kunjungi di Semarang. Makanya, yuk, main ke sini!

Oh ya, bonus lagi dari Kampoeng Seni PADANGRANI.


“Duitmu akeh tapi kok dulurmu ngeleh?” artinya, “Uangmu banyak tapi kok saudaramu kelaparan?” gitu.

Kuy! Kapan ke Semarang?


Nabilah Elmira

You Might Also Like

2 comments

Contact

Nama

Email *

Pesan *

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe