Wadaslintang, Wonosobo: Sepenggal Kisah (Super)!

2:55:00 PM



Kalau soal jatuh cinta, tanya saja sama saya. Awal semester kemarin, ketika melihat gambar Ngarai Sianok dan Jam Gadang saat sedang iseng-iseng browsing, saya langsung benar-benar jatuh cinta dengan Bukittinggi dan bertekad pada liburan panjang naik ke semester tiga saya harus benar-benar ngacir keluar jawa dan sampai di Bukittinggi. 

Hati saya yang sangat-sangat mudah jatuh cinta ini ternyata berkata lain. Saya ternyata bisa move on dari Ngarai Sianok, Jam Gadang, dan Bukittinggi, ke Wadaslintang di Wonosobo. 


Gerakan Undip Mengajar memilih kecamatan Wadaslintang sebagai tempat penerjunan pada tahun keempat. Di sebelah selatan Kecamatan Wadaslintang, yang berbatasan dengan Kabupaten Kebumen, terdapat Waduk Wadaslintang yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dan memakan waktu tujuh tahun pembangunan. Menurut cerita dari Pak Sekdes, pembangunan Waduk Wadaslintang memakan beberapa desa dalam proses pembangunannya, sehingga desa-desa tersebut akhirnya melakukan bedhol desa. 

Ketika saya bilang “sepenggal kisah”, itu bukan hanya untuk puitis-puitisan dan pilihan kata supaya judulnya menarik. Yang tertulis dari paragraf pertama hingga paragraf terakhir memang cuma sepenggal dari keseluruhan lima penggal kisah. Segenap pengajar dan panitia ditempatkan di lima titik yang berbeda yaitu Sumbersari, Rejosari, Kumejing I, Kumejing II, dan tempat saya serta kesebelas rekan lainnya, Kaligowong.

Photo credit goes to: Alkhonsa
Mereka adalah orang-orang super kuat yang tahan hidup bersama saya selama kurang lebih dua minggu. My super team (jangan tanya gimana supernya), dari kiri atas ada Andreas yang abangable, Mas Razis yang bapakable, Raka korlap menawan, Troy paling ganteng sekaligowong, Endra yang kadang lamban tapi menghibur setiap saat; kanan bawah ada Mbak Ocha calon Bu Dokter baik hati, Mbak Atina yang "Aduh Ibuuu!", Mbak Bantar komdis Kaligowong, Lia teman berjoget saya, Ratu yang higienis sekali, dan Firda yang kalo sekali ngomong langsung nusuk tepat sasaran. Namun, saya tidak akan mengisi sepenggal kisah saya dengan kisah-kisah tentang kami. Selain tim super, saya punya hal super lain yang saya rasa wajib untuk saya tulis kisahnya. 


 SDN 3 Kaligowong

Photo taken by: Troy camera by: Alkhonsa
Ketika pertama kali sampai di tempat penerjunan dan bertemu anak-anak sekitar, yang ada di kepala saya cuma dugaan-dugaan apa mereka yang akan saya temui di kelas nanti. Ternyata, tidak ada satupun anak-anak di sekitar kediaman kami, tepatnya Dusun Kalisalak, yang bersekolah di SDN 3 Kaligowong, tempat kami para pengajar ditugaskan dalam penerjunan. 

Butuh waktu sekitar 25 menit berjalan kaki untuk mencapai SDN 3 Kaligowong jika ditempuh dari basecamp di Kalisalak. Jalan menuju ke sekolah terus menanjak dan sangat berbatu. Kalau mau perjalanan dengan waktu yang lebih singkat,ada juga jalan pintas tapi kondisinya… ya intinya jangan banyak berharap. Namanya juga jalan pintas (hari pertama kami masih agak-agak sok kuat lewat jalan pintas. Seterusnya, kami lebih milih untuk menyayangi diri sendiri dan hemat-hemat tenaga). 

Taken with ASUS Zenfone 2 Laser
In frame, Valentino. Saya gatel banget mau cie-ciein dia pas jadi petugas. Tapi kasihan, jadi saya ambil aja gambarnya.

SDN 3 Kaligowong punya murid-murid super yang jumlah perkelasnya nggak ada yang lebih dari dua puluh orang. Bahkan, kelas 4 malah cuma diisi sama enam siswa. Saya sendiri ditugaskan untuk mengajar salah satu kelas terbanyak, kelas 3, yang berisi sembilan belas orang murid-murid super, yang kalau di kelas hobinya bilang, “Bu Guru! Udah jam sembilan. Istirahat, Bu!” padahal masih jam delapan (kalian dagel ya, Nak), berebut bantuin saya membersihkan papan tulis, berebut ngingetin temennya kalau masih ada yang memakai sepatu di dalam kelas, berebut lapor jumlah bintang setiap pagi waktu saya baru selangkah masuk ke gerbang sekolah, dan ngetes kemampuan bahasa jawa saya di kelas (ini beneran deh. Karena kemampuan bahasa jawa saya di bawah rata-rata, mereka jadi sering ngajak saya main tebak arti bahasa jawa).

Anak-anak super ini 50% bertempat tinggal di Kalipenggung (masih berada di Wonosobo) dan 50% di Belimbing (sudah masuk Kabupaten Kebumen). Jadi rata-rata, butuh waktu 15-30 menit bagi mereka untuk sampai di sekolah. Tapi hebatnya, selama dua minggu saya mengajar, nggak ada satupun yang terlambat, dan mereka semua sudah ada di sekolah saat kami datang.

Rata-rata, orang tua mereka bekerja sebagai petani (dan kalau di rumah tontonan mereka Anak Jalanan). Beberapa punya kakak yang hampir semua merantau ke Jakarta untuk jadi buruh. Saya agak sungkan kalau menanyakan jadi buruh apa, jadi sampai sekarang arti buruh buat saya masih samar-samar. 


Taken with ASUS Zenfone 2 Laser
Mereka semua suka banget diajak selfie saya jadi bingung.

Selain kelas 3, saya banyak berinteraksi dengan anak-anak super kelas lainnya juga. Pokoknya bel istirahat adalah sinyal kami semua untuk bersenang-senang bareng anak-anak super di SDN 3 Kaligowong. Nggak cuma pengajar, panitia juga. Momen yang paling priceless untuk saya, adalah ketika mereka semua datang ke perpustakaan untuk mengambil buku bacaan apa saja dan mulai membaca di sekitar perpustakaan.

Home Visit dan Anak-Anak (Super) Hits

 
Taken with ASUS Zenfone 2 Laser
Salah satu program yang kami adakan pada saat penerjunan, adalah Home Visit. Home Visit ini semacam berkunjung ke rumah-rumah siswa dan ngobrol-ngobrol bareng orang tuanya. Karena rumah anak-anak super ini juga super jauh, jadilah kami menjadikan mereka semacam tour guide untuk menunjukkan rumah mereka, atau rumah teman-teman mereka yang berdekatan.

Menurut saya, momen untuk cerita-cerita dan main-main sama mereka, ya pas perjalanan home visit ini. Anak-anak ini rata-rata tinggal di lingkungan yang religius. Mereka setiap hari, baik sehabis ashar atau maghrib, dibiasakan untuk pergi mengaji, tapi besar dengan takhayul. Jadi selagi jalan-jalan, biasanya kami-kami juga dapat sedikit-sedikit takhayul yang mereka percaya. Mulai dari batu yang harus dikasih batu juga tapi kecil-kecil, sampai mengapa mereka nggak boleh keluar kalau sudah jam 12 siang (padahal kelas 3 ke atas pulang di atas jam sebelas dan biasanya jam dua belas mereka masih otw pulang). 

Taken with ASUS Zenfone 2 Laser
Dari Home Visit pula, dan berkat pemaksaan keukeuh yang nggak habis dari anak-anak super ini, kami jadi dapet tempat-tempat super hits buat plesir dan foto-foto! Karena kondisi alam Kaligowong dan sekitarnya ini memang berbukit-bukit, jadi kami harus manjat-manjat. Maafkan wajah Mbak Bantar yang begitu, ya, soalnya silau sekali memang. Foto itu,diambil di Watu Bulu atau Watu Cucuk (namanya memang ada dua). Kalau dari bawah, bentuk batu yang paling pucuk memang agak runcing ke depan, kayak paruh burung. Watu Cucuk ini, perjalanannya agak menyeramkan dan agak cari mati juga kalau sembrono. Untuk dapat pemandangan yang bagus pun, kami harus manjat sedikit dengan hati-hati ke puncaknya. Perbandingan kami yang parno dan anak-anak yang sudah sangat biasa main ke sini (dan akhirnya mereka santai saja lari-larian. Sekali lagi, LARI-LARIAN! Sedangkan kami, berdiri aja gemeteran) njomplang sekali.

Dari Watu Cucuk ini, kami bisa melihat Waduk Wadaslintang yang (agak) nun jauh di sana. Anginnya juga sepoi-sepoi. Walaupun agak cari mati, Watu Cucuk ini recommended banget buat menghabiskan waktu sore. 

Photo credit goes to: Alkhonsa
Seharusnya saya ngikut waktu foto itu diambil (masih di Watu Cucuk) tapi saya nggak jadi ikut gara-gara anak-anak super kelas 3 tiba-tiba aja dateng rombongan banget ke sekolah katanya mau latihan buat pentas seni besoknya. 

Photo credit goes to: Fira camera by: Alkhonsa
In frame, Fira. Salah satu anak super yang Bahasa Indonesianya lancar sekali. Sebagian besar anak-anak super nggak lancar berbahasa Indonesia karena di rumah memang terbiasa bicara Bahasa Jawa. Jadi, beberapa dari kami, pengajar, yang nggak bisa Bahasa Jawa biasanya memakai jasa penerjemah, yaitu beberapa anak super yang lancar berbahasa Indonesia karena biasanya pernah tinggal di Jakarta ikut orang tuanya barang beberapa bulan. 

Selain Watu Bulu atau Watu Cucuk, ada juga yang namanya Watu Uyah. Watu Uyah (Batu Garam) ini nggak seekstrem Watu Cucuk. Bebatuannya lebih luas, tempatnya lebih lebar, dan lebih aman kalau mau bawa anak-anak super. Di Watu Uyah, kami nggak parno kalau mereka sudah mulai lari-larian. 

Photo credit goes to: Troy camera by: Alkhonsa
Saya tahu spot ini juga karena bujukan anak-anak. Pertama kali datang ke sini, saya bareng sama Ratu, Firda, plus Endra, dan kami ngebawa sekitar tiga kelas. Foto di atas itu diambil selesai beres-beres perpisahan dan home visit terakhir ke rumah siswa kelas saya dan Andreas. Rencana kami yang nggak mau ngajak anak-anak super pun nggak jalan karena mereka tetep ngikut juga.

Camera by: Alkhonsa

Time Flies

Dua minggu mengajar yang saya pikir bakal berjalan lama, ternyata sebentar banget. Sama sekali nggak kerasa. H-1 sebelum pentas seni, secara dadakan, kami buat (waktu itu hari Jum’at) menjadi hari dimana mereka isinya having fun semua! Karena nggak bisa ngadain festival rakyat, akhirnya hadiah-hadiah yang sudah dipersiapkan, kami pakai untuk hadiah perlombaan-perlombaan hari Jum’at ini. 

Photo credit goes to: Alkhonsa
Untuk kelas 4, 5, 6, ada lomba Estafet Air (tapi pakai tusuk sate hayo gimana) dan balap karung. 

Photo credit goes to: Alkhonsa
Untuk kelas 1,2, 3, ada lomba makan kerupuk dan memasukkan bola volley ke dalam ember.

Malam itu, kami ngelembur buat nyiapin property dan hiasan untuk pentas seni dan perpisahan keesokan harinya. Bagi pengajar, ada program pembagian raport—sebenernya nggak ada nilai angka, tapi laporan perkembangan anak selama kami mengajar di sana dua minggu kebelakang untuk ditunjukkan ke orang tua.

Menurut saya, pembagian rapot ini adalah sesuatu yang lumayan bernilai besar, sih. Salah satu informasi yang berhasil kami dapat dari home visit adalah, masih banyak orang tua yang harus diberi pengertian bahwa anak-anak ini masih wajib untuk belajar 12 tahun setidaknya sampai lulus SMA, walaupun mereka nggak dapat ranking (karena lumayan banyak orang tua yang menganggap ranking adalah tolak ukur anaknya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi). Kami, khususnya pengajar, berusaha mengubah mindset tersebut lewat obrolan-obrolan saat home visit dan puncaknya adalah pada pembagian rapot.

Pembagian rapot selesai lebih cepat dari yang kami perkirakan. Begitu pembagian rapot selesai, kami langsung membuka sekat antara kelas 4 dan kelas 5 untuk kami jadikan aula dadakan. MMT sudah dipasang, hiasan sudah menggantung cantik, anak-anak super dan orang tua sudah berkumpul, kami siap untuk pentas seni!

Photo credit goes to: Alkhonsa
Anak-anak supernya Mbak Atina dan Mas Razis, plus Mbak Ocha ini menyanyikan lagu Balonku. Lucu bangeet! Mereka kayaknya bingung mau ngapain setelah lagunya habis, dan nggak ngerti maksud Mbak Atina yang nyuruh mereka membungkuk sambil mengucapkan terima kasih. 

Photo credit goes to: Alkhonsa
 Cewek-cewek ayu ini anak-anak supernya Andreas. Kelas 2 sebenernya dibagi menjadi dua penampilan, siswa laki-laki dan perempuan tapi saya nggak nemu fotonya yang laki-laki. Mereka nari….. entah saya juga kurang tau. Tapi mereka kemayu sama gemulai banget narinya. 

Photo credit goes to: Alkhonsa
 Yang rame dan kibar-kibarin bendera kecil ini… Anak-anak super saya. Hahahah. Mereka nyanyi lagu Bendera Merah Putih. Perjalanan memastikan lagu buat mereka itu panjang bangeeet. Secara mood mereka gampang berubah-ubah. Tapi sukses, Alhamdulillah! Duh kangen. 

Photo credit goes to: Alkhonsa
Kok? Perempuannya cuma satu? Ya emang! Hehehe. Ini bukan geng, loh ya. Penampilannya juga nggak dibagi seperti kelasnya Andreas (dan kelasnya Firda). Anak-anak supernya memang cuma segini. Mereka-mereka ini anak-anak supernya Lia. Walaupun dikit, tapi mereka nyanyiin lagu (Sempurna yang diganti liriknya) dan bacain puisi yang super so sweet!

Photo credit goes to: Alkhonsa
Anak-anak super ini dari kelasnya Ratu, kelas 5. Mereka lagi ngapain? Kok kayak silat? Ini namanya Gambus. Entah, ya, jadi Gambus ini adalah semacam tarian khas yang lagunya ada banyaaak banget (kata anak-anak super saya, lagunya ada sepuluh lebih) dan ketika nampilin, bebas mau membawakan berapa lagu. Tinggal pilih. Perlagu ada gerakannya. Tapi gerakan yang khas yaitu, tangan kiri mengepal di pinggang, lalu tangan kanan membuat gerakan meninju, setelah itu telapak tangan ditadahkan ke atas dan membuat gerakan membelah. Begitulah pokoknya. Dan dari anak kelas 2 sampai kelas 6 kayaknya semua bisa Gambus. Lagu-lagunya Gambus juga rasanya entah kenapa nempel banget di kepala. 

 
Photo credit goes to: Alkhonsa
Lah, itu apa kok ada tidur-tiduran? Namanya juga lagi drama. Apapun bisa terjadi. Jungkir balik, kek. Koprol, kek. Salto, kek. Drama super ini ditampilkan sama anak-anak supernya Firda, kelas 6. Seinget saya penampilannya juga dibagi seperti kelas 2, dan satunya juga gambus. Mereka menampilkan Snow White lain versi, kayaknya, karena ada adegan penyihir dan putri yang diracun-racunin. Tapi penampilan mereka ini ngocol banget. Mereka yang nampilin juga ikut tertawa-tawa sendiri.

Dengan diadakannya pentas seni dan pembagian rapot, maka tugas kami di SDN 3 Kaligowong, pengajar dan panitia, officially berakhir. Nggak terasa banget. Saya merasa belum memberi apapun ke mereka dan merasa banyak banget ikatan-ikatan yang seharusnya lebih saya eratkan dengan mereka.

Let me tell you, sekitar 90% siswa di kelas 3 masih membaca dengan mengeja, dan saya merasa belum berbuat maksimal untuk mengubah angka tersebut. Saya masih belum yakin apa mereka akan terus belajar setelah jam sekolah tanpa adanya kami di sana. Saya nggak tahu apakah mereka akan terus berbondong-bondong ke perpustakaan untuk berebut buku cerita dan membaca pada jam istirahat. Saya sama sekali nggak bisa memastikan apakah orang tua-orang tua mereka akan memberikan dukungan dan fasilitas yang benar-benar mereka butuhkan, karena kunjungan ke rumah nggak akan mengubah banyak hal. Saya nggak tahu apakah saya berhasil menanam pelajaran, apapun, ke mereka sedangkan saya telah belajar banyak sekali dari mereka. Saya belajar semangat, kegigihan, optimisme, dan fakta bahwa gap pendidikan di negeri ini masih sangat-sangat besar lalu saya jadi sangat pesimis sama ASEAN dan AFTA dan MEA dan kawan-kawannya karena anak-anak ini bahkan belum punya bayangan Indonesia itu bentuknya seperti apa. Dua minggu, adalah waktu yang super singkat.

Selain anak-anak super di sekolah yang super, ada juga warga-warga super yang banyak membantu kami sehingga program-program kami bisa terlaksana. Mulai dari Bu dan Pak Kades Kaligowong, Bu Kadus Kaligowong, Pak Kadus Kalisalak, dan  terutama Bu Sri, Bu Yati (yang keliatan sedih banget waktu kami mau pulang hiks) dan Pak Yusron, serta Bu dan Pak Sariyo, Bu dan Pak Rohimin, dan Zafran, bayi gembul sehat wal afiat yang mirip sama Rachel di film Up. 

We seize the day, H-1 sebelum pulang, dengan jalan panas-panasan ke Waduk Wadaslintang yang super hits! Dan yang lebih super, kami nggak jalan jauh, karena kami dengan super muka temboknya melambai-lambai ke truk-truk yang lewat buat minta nebeng. Deket-deket pulang memang sukanya tambah sakit. 

Oh ya! Hari itu plus hari-H kepulangan, kami masih dikunjungi sama anak-anak super yang rela jalan turun dari sekolah.

Taken with ASUS Zenfone 2 Laser
In frame, boyband Super Kaligowong yang kalo mau foto berempat sukanya ngode-ngode dulu. Idih.


Photo credit goes to: (Antara Mbak Bantar, Andreas, atau Raka) camera by: Endra
Tujuh belas hari sudah kami berada di Desa Kaligowong, Kecamatan Wadaslintang. Panas-dingin sama-sama, susah-senang sama-sama, letih-lesu juga sama-sama. Sampai sekarang, kalau sekiranya ditanya, “Sudah move on?” saya akan dengan yakin menjawab, “Belum. Sama sekali.” 

Bonuses

 
Photo credit goes to: Rodiyah camera by: Atina

Photo credit goes to: Rodiyah camera by: Andreas

Kedua foto di atas diambil oleh salah seorang anak super SDN 3 Kaligowong bernama Rodiyah. Sekali lihat, mungkin foto itu akan dikira hasil jepretan kami. Nggak. Foto itu diambil oleh seorang anak super yang mungkin sangat nggak biasa pegang kamera. Foto pertama masih menjadi foto terfavorit saya sampai sekarang. 

Photo credit goes to: Alkhonsa
Selain anak-anak super di sekolah, di sekitar rumah kami juga ada anak-anak super! Biasanya mereka main-main ke rumah atau ngerjain PR setelah kami pulang dari sekolah. Malamnya, sehabis maghrib, kami mengaji sama-sama di rumah Pak RT. 

Camera by: Alkhonsa
Ini dia merekaaaa! Kaligowong Girls Squad! Yang paling banyak kena tingkah saya yang ampun, deh, macem-macem banget. Kami seakan terbagi jadi dua tipe, tenang dan petakilan. Tapi damai-damai aja dan seneng-seneng aja tuh (insyaAllah hahahah) hidup dua minggu serumah. Saya nggak tahan, pokoknya Girls Squad harus masuk blog!

Photo credit goes to: Endra
Di Kaligowong, berkat cerita dari anak-anak super juga, saya jadi mengenal tumbuhan baru yang namanya Cemitri. Itu, tumbuhannya yang dipegang sama Wahyu dan Dani. Katanya, Cemitri ini export material banget. Kalau sudah besar, akan ada buahnya dan bijinya itu yang biasanya dibikin perhiasan macem kalung, gelang, dll dan dieskpor. Kalau udah kepalang bagus, katanya sepohon harganya bisa mencapai 600 juta rupiah! Saya dapet empat pohon dari Suci dan Rafi dan karena nggak yakin bisa ngerawat dengan baik, akhirnya saya titipkan ke Mbak Atina yang emang hobi rawat-rawat tumbuhan. 

Aaaand there it is. Sepenggal kesuperan GUM Jilid 4 versi Kaligowong. Nulis ini membuat saya jadi super baper dan super kangen sama semua kesuperan-kesuperan di sana dan akhirnya bingung mau nutup tulisan ini di mana. Mungkin di sini aja. Ciao!

Ikhlas Mengabdi, Semangat Menginspirasi, Yes!

Ira


You Might Also Like

0 comments

Contact

Nama

Email *

Pesan *

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe